BREAKING NEWS$type=ticker$cols=4

Museum GBKP, bermakna dan berbudaya....

Patrolihukum.com Museum GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan) yang terletak di jalan Jamin Ginting, Desa Suka Makmur kecamatan Sibolangit, Kab...

Patrolihukum.com

Museum GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan) yang terletak di jalan Jamin Ginting, Desa Suka Makmur kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Berada didalam kawasan pusat retret center, Taman Jubelium 100 Tahun GBKP. 

Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 30 Juli 1990. Museum GBKP ini dibangun awalnya untuk melestarikan materi dan dokumen sejarah masuk dan berkembangnya agama Kristen di tengah orang Karo. Pada awal Tahun 2003, gedung museum diserahkan oleh pengurus pusat retret center GBKP kepada kepala Biro Museum, Perpustakaan dan Kebudayaan Karo dan digunakan sebagai sarana penunjang berbagai kegiatan baik dalam kebudayaan maupun pengembangan.

Pengelolaan Museum GBKP juga sebagai pelengkap sarana dan prasarana serta penataan benda-benda budaya Karo dan bahan-bahan dokumen sejarah GBKP. Pada 11 Agustus 2007 dilaksanan Pembukaan dan peresmiannya oleh Gubernur Sumatera Utara, Rudolf Pardede. Museum GBKP saat ini memiliki kurang lebih 900 koleksi di antaranya etnografi, arkeologi, historis, filologi dan keramik. 

Tidak hanya itu kini museum GBKP juga tersedia ruangan perpustakaan yang berisi tentang buku-buku masuknya kristen ke tanah karo serta buku-buku sejarah kehidupan orang karo dan budayanya. Dihalaman belakang museum kini juga sudah berdiri rumah adat khas karo yaitu rumah ada siwaluh jabu lengkap dengan rumah lesungnya, yang dilengkapi dengan dua lesung panjang tempat menumbuk padi, yang memiliki panjang kurang lebih 8 meter dan memiliki 34 lubang. Tidak hanya itu, penataan dan suasana diciptakan menyerupai perkampungan karo tempo dulu.     

Menurut kepala museum GBKP Rosfineli br tarigan seluruh koleksi yang ada dalam museum ini merupakan titipan dan sumbangan-sumbangan orang yang peduli akan sejarah karo dan peduli terhadap kebudayaan karo. Sampai saat ini kunjungan wisatawan ke museum gbkp masih terbilang rendah, kurang lebih ada 4000 orang/tahun.


Kami sebagai petugas museum sangat berharap dan sangat senang bila kunjungan ke museum semakin meningkat, sebab museum bukan hanya sekedar etalase-etalase kaca yang berisi benda-benda tua, tetapi ini merupakan pembelajaran yang diwariskan nenek moyang kita, mengapa kita tidak bercermin kepada karya nenek moyang kita, karena banyak pembelajaran kehidupan yang diberikan nenek moyang kita yang masih sangat relevan dimasa sekarang,tutur Rosfinelli. 

Ditempat yang sama Alexander Chrisse Ginting Munthe, seorang pegiat kebudayaan dalam kunjungannya ke museum gbkp, merasakan suasana yang begitu amat penuh pesan yang bermakna. Banyak catatan - catatan yang seharusnya generasi muda karo lihat disini, mulai sejarah masuknya kristen ke tanah karo, serta tradisi-tradisi yang begitu amat luar biasa, bahkan ada tradisi membuang bayi  pada orang karo dimasa lalu. Ini kan merupakan suatu khasanah ilmu yang harus digali serta dilestarikan sebagai cerminan kebudayaan. 

Alex berpesan kepada seluruh anak muda karo untuk datang ke museum ini untuk belajar dan mengenal budaya karo, dan kepada para orang tua, ayo bawa anak-anak kita berwisata ke museum gbkp disini banyak cerita yang bisa kita wariskan untuk masa depan generasi muda, kita bisa mengikuti zaman, orang karo harus menjadi orang yang hebat dalam bidang keilmuannya masing-masing namun jangan pernah meninggalkan kebudayan, sebab budaya bukan sekedar tontonan tetapi tuntunan.(Abdi/red)

COMMENTS